2 Tahun Kepemimpinan Prabowo, PGK Bengkulu: Sekolah Rakyat Adalah Harapan Baru Memutus Rantai Kemiskinan

BENGKULU, KP – Dua tahun kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dinilai membawa angin segar bagi dunia pendidikan. Perkumpulan Gerakan Kebangsaan (PGK) Provinsi Bengkulu menggelar diskusi publik bertajuk _”2 Tahun Kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto: Sekolah Rakyat dan Upaya Memutus Rantai Kemiskinan”_, Sabtu (24/10/2026) di Set Up Coffee Bengkulu.

Diskusi yang berlangsung hangat itu menghadirkan dua narasumber inspiratif: Dosen sekaligus Praktisi Hukum Universitas Muhammadiyah Bengkulu, Dr. Elfahmi Lubis, S.H., dan aktivis PGK yang juga Ketua Komisi I DPRD Kabupaten Seluma, Hendri Satrio, M.I.Kom. Puluhan mahasiswa dari UNIB, UMB, UINFAS, dan berbagai kampus di Bengkulu tampak antusias mengikuti kegiatan hingga selesai.

Narasumber pertama, Dr. Elfahmi Lubis, membuka diskusi dengan harapan besar. Ia menyebut program Sekolah Rakyat sebagai program prioritas Presiden Prabowo yang harus dikawal bersama agar benar-benar menyentuh seluruh pelosok Bengkulu.

“Saat ini di Bengkulu baru ada satu Sekolah Rakyat yang terbangun. Tentu harapan kita, program mulia ini bisa hadir di setiap kabupaten dan kota. Jangan sampai ada anak Bengkulu yang tertinggal hanya karena keterbatasan ekonomi,” ujar Elfahmi.

Dengan nada haru, Elfahmi berbagi kisah pribadinya. Ia mengaku berasal dari keluarga susah, namun pendidikan telah mengubah jalan hidupnya.

“Saya adalah bukti hidup bagaimana pendidikan bisa mengubah nasib. Orang tua saya dulu orang susah, tapi karena saya diberi kesempatan untuk sekolah, Alhamdulillah hidup saya jauh lebih baik. Karena itu saya titip, Sekolah Rakyat ini harus betul-betul untuk orang miskin. Anggarannya harus kita kawal bersama, jangan sampai dikorupsi oleh oknum yang tidak bertanggung jawab,” tegasnya.

Sementara itu, Hendri Satrio menilai Sekolah Rakyat adalah wujud nyata dari Asta Cita Presiden Prabowo poin keempat, yakni membangun Sumber Daya Manusia yang unggul. Menurutnya, di era Prabowo akses pendidikan dibuka seluas-luasnya tanpa sekat.

“Sekolah Rakyat bisa menjadi jawaban konkret bagi saudara-saudara kita yang selama ini belum merasakan pendidikan yang layak. Ini sejalan dengan Asta Cita Presiden. Pemerintah daerah harus menyambut baik program ini, agar tidak ada lagi anak Bengkulu yang putus sekolah,” ungkap Hendri.

Ia juga mengajak mahasiswa untuk tidak diam, melainkan menjadi garda terdepan dalam mengawal hak rakyat untuk mendapatkan pendidikan.

“Sekolah Rakyat ini secara aturan memang diperuntukkan bagi kalangan miskin. Faktanya, selama ini tidak semua orang bisa sekolah dengan layak. Jadi kalau ada yang menolak program Sekolah Rakyat, sama saja dia tidak pro kepada rakyat miskin. Mahasiswa wajib kawal program ini, lihat anak-anak di sekeliling kita yang butuh uluran tangan,” tutupnya penuh semangat.

Diskusi ini menjadi pengingat bahwa Sekolah Rakyat bukan sekadar bangunan fisik, melainkan harapan baru untuk memutus rantai kemiskinan melalui pendidikan.

(**)